Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

Curhat peserta PPPK.

Eva M Sinaga 15 September pukul 20.51

Curhat peserta PPPK.


Untuk apa menguji kami honorer, apalagi bagi kami yang sudah diatas 45 th, kalau hanya sekedar membesarkan hati kami saja, sementara yang soal yang kami kerjakan tidak sesuai dengan pekerjaan yang kami lakukan disekolah, begitu panjang kali lebar soal yang harus dibaca, belum pilihan jawaban yang sama panjangnya, sudah sakit mata, sakit kepala, tidak bisa diungkapkan, cukup kami yang merasakan, lalu menerima hasil dengan kekecewaan, namun kami tetap semangat untuk mendidik putra-putri kami kembali ke sekolah.
Drama kami mengikuti p3k. Dari kampung naik mobil kurang lebih 2 jam. Menuju pelabuhan yg dimana nanti kami naik kendaraan air speed boat kurang lebih 4 jam.
Melewati sungai yg dihuni banyak buaya ,setelah sungai kami melewati lautan dan di sambut dengan ombak, yg sesekali menampar badan speed boat. Dimana saat itu kami harus berpegang erat, untuk tetap merasa aman didalam speed.
Sesampai di kota, kami tidak bergegas pergi, karena harus kompromi, dimana tempat berteduh dan mencari kos-kosan murah meriah.
Sesampai di kos tersebut, kami membuka bekal masing2, lumayan GK ngeluarkan dana banyak tuk menikmati enaknya makanan rumahan.
Tak banyak waktu buat kami bercanda gurau, apa lagi menikmati keramaian kota.
Semua fokus dengan belajar, bahkan saling sapa pun jarang, (bukan musuhan tapi konsentrasi number one).
Sehari sebelum tes, kami melakukan swab dan harus membayar 130 ribu perorang. Tak ada pilihan lain. Itu salah satu syaratnya.
Keesokan harinya, tibalah saat kami bertempur(mengikuti tes p3k),
Dimana kita dihadapkan dengan soal2 yg diluar prediksi kami, jauh dari tutorial2 yg kami pelajari.
Nilai2 yg tidak memenuhi PG
Terlihat diwajah teman2 rasa sedih itu
Bagaikan dunia ini runtuh, menimbun segala harapan kami.
Dan tak lama selang waktu kami bersiap2 untk kembali pulang, tiba2 ada seorang mas2 ganteng, menyapa dan mencium tangan kami, iya, dialah salah satu bukti kesuksesan kami sebagai guru honorer.
Dia adalah salah siswa kami( masa itu SMP) yg sudah lama tak bertemu, sekarang gagah berdiri didepan kami dengan seragamnya yg membuat kami bangga luar biasa. Salah satu rekan kami meneput pundaknya, (tanda bangga) ternya, salah satu panitia P3k adalah seorang PNS yg mana dulu pernah di didik dan dibimbing bersekolah dikampung. Kini melihat gurunya berjuang untuk menjadi seorang PNS.
Pengabdian, selama ini tak pernah kami jdikan beban , tak perlu setiap pagi semir sepatu agar mengkilat, tapi bagaimana kami tiba disekolah sebelom anak didik nya.
Saat terima gaji.
Tak ada terbesit di benak tuk shopping, yg penting bisa untuk makan sampai 3 bulan berikutnya itu udah syukur.
Terimakasih tuk mu yg membuat peraturan ini, atas kebijakannya yg tiada Tara, terimakasih sudah menggores luka di banyak harapan kami.
Terimakasih sudah melambungkan harapan kami dengan melakukan tes p3k, lalu kau hempaskan Kami, dengan standar passing grade yg luar biasa.

Salam satu perjuangan 






Category: Berita,

Popular article


Post a Comment for "Curhat peserta PPPK."