REVIEW : CARRIE


"The other kids, they think I'm weird. But I don't wanna be, I wanna be normal. I have to try and be a whole person before its to late."

Carrie (1976) versi Brian De Palma adalah sebuah mutiara. Sebuah film horor klasik yang nyaris sulit ditemukan celanya dan begitu layak untuk dihormati dengan sepenuh hati oleh siapapun yang mengatasnamakan dirinya sebagai sineas, penggila, pemerhati, atau kritikus film – terlebih jika memiliki kecintaan berlebih terhadap genre horor. Mengkreasi ulang film legendaris hasil adaptasi novel Stephen King yang telah memiliki pemuja dalam jumlah yang tidak main-main ini dengan memodernisasi beberapa sisi bukanlah perkara yang mudah dan cenderung beresiko tinggi. Katt Shea (The Rage: Carrie 2) dan David Carson (Carrie versi FTV) telah melakukannya dengan begitu memalukan seolah tidak menaruh respek terhadap karya agung De Palma sehingga sudah semestinya diguyur darah babi. Kini, setelah melewati satu dekade sejak remake terakhir, Kimberly Peirce yang angkat nama melalui Boys Don’t Cry mencoba untuk mengambil tantangan yang menganggur bertahun-tahun tersebut dengan menciptakan Carrie generasi YouTube. Akankah kali ini berhasil atau justru bernasib serupa dengan para pendahulu? 

Well... kebanyakan dari Anda mungkin sudah tahu film ini akan bertutur tentang apa, apalagi skrip yang diracik oleh Roberto Aguirre-Sacasa masih patuh sepenuhnya kepada versi klasik (bahkan ada beberapa adegan dan dialog yang copy paste). Ini masih berkisah seputar gadis aneh bernama Carrie White (Chloe Grace Moretz) – yang untuk sekali ini terlihat begitu cantik. Blah! – yang dilanda kemalangan tak berkesudahan dalam hidupnya. Sang ibu, Margaret White (Julianne Moore), adalah pencinta Yesus yang berbisa, sedangkan teman-temannya di sekolah tak pernah puas untuk merundungnya lantaran Carrie gagal bersosialisasi. Bahkan saat Carrie mengalami menstruasi pertamanya, mereka melecehkannya habis-habisan. Apakah tidak ada seorang pun di dunia ini yang peduli dengan gadis malang ini? Untungnya, masih ada Miss Desjardin (Judy Greer), sang guru olahraga, dan Sue Snell (Gabriella Wilde), teman sekelasnya, yang bersimpati. Berkat bantuan mereka, Carrie yang semula tak memiliki kesempatan, mampu melenggang di pesta dansa. Hanya saja, apa yang seharusnya berakhir dengan kenangan indah ini justru berbalik menjadi malapetaka saat Chris (Portia Doubleday) – yang sangat membenci Carrie – ikut campur. 

Ketimbang dua koleganya yang hancur lebur, Peirce boleh dikatakan masih jauh lebih baik sekalipun sama sekali tidak mendekati versi De Palma yang superior itu. Yang menjadi permasalahan utama, selain standar yang telah ditetapkan sudah teramat tinggi – mengingat ini mengikuti film yang hampir sempurna – Peirce lupa menggali lebih dalam emosi dan terlalu banyak bersenang-senang. Ikatan ibu anak antara Carrie – Margaret yang seharusnya rekat dengan garis tipis yang menjembatani kasih sayang dan kebencian, tak terasa sama sekali di sini. Emosi yang ditampilkan seolah hanya seperlunya, terasa kering dan terkadang malah dingin. Apakah saya peduli dengan apa yang dialami oleh Carrie? Errr... sayangnya, tidak terlalu. Di era dimana perundungan berbuntut balas dendam tengah mewabah, seharusnya mudah bagi Peirce untuk menyatukan hati penonton dengan para tokoh. Namun lantaran minim emosi - dengan performa para pemeran pendukung yang begitu lemah - kehangatan dan momen dramatis, film pun berjalan hambar. 

Lebih memiliki cita rasa sebagai film superhero remaja dengan nuansa murung ketimbang film horor, itulah Carrie (2013). Telekinesis yang diperlakukan sebagai anugerah dan kutukan oleh sang tokoh utama, kelewat diumbar. Malah, ada satu adegan yang mempertontonkan betapa girangnya Carrie dengan kemampuannya ini. Saya pun bertanya-tanya, “apakah saya sedang menonton film dari Marvel Studio?”. Bersenang-senang yang secara otomatis dipenuhi dengan nuansa ceria, bukanlah sesuatu yang sepatutnya saya dapatkan saat menonton film ini. Seharusnya, ini menjadi sajian yang menghantui, memberi rasa tidak nyaman yang sangat dahsyat, dan membuat penonton meringkuk tak berdaya. Tapi yang terjadi, justru sebaliknya. Chloe Grace Moretz yang pemilihannya telah memicu kontroversi sejak awal karena dianggap kelewat cantik, pun terbukti memang miscast. Parasnya yang kelewat ayu malah mengganggu serta membuatnya sulit dipercaya dan janggal sebagai korban bullying, terlebih Sissy Spacek telah melekat sempurna dengan sosok Carrie. Tatapan matanya yang dipenuhi dendam membara itu lho... sulit dilupakan! 

Pun demikian, Peirce tidak sepenuhnya gagal dalam menghantarkan versi modern dari Carrie. Performa mengagumkan dari Julianne Moore sebagai seorang ibu yang tampaknya lebih banyak mencurahkan kasih sayangnya kepada Yesus ketimbang putrinya sendiri adalah penyelamat. Selain itu, Peirce pun menebus kesalahannya dengan menghadirkan ‘momen balas dendam Carrie’ dengan lebih tega dan lebih berdarah dalam rentang durasi yang lebih panjang ketimbang milik De Palma. Memang, klimaks ini tidak mencapai tahap mengerikan, bak mimpi buruk, dan mengejutkan, namun cukup mampu memuaskan ‘sisi psikopat’ dalam diri ini yang menggelegak setiap melihat tampang Portia Doubleday dan konco-konco yang ‘tamparable’ sekali. Usaha yang bagus, Peirce, walau terasa datar, terlalu ceria, dan sangat mudah dilupakan!

Acceptable

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.