REVIEW : THE HUNGER GAMES: CATCHING FIRE


"People are looking to you, Katniss. You've given them an opportunity. They just have to be brave enough to take it." - Gale

Langkah kontroversial yang ditempuh oleh Katniss Everdeen (Jennifer Lawrence) pada akhir jilid perdana The Hunger Games, rupanya bukanlah solusi terbaik baginya untuk mencapai kehidupan yang damai-sentosa-bahagia-untuk-selamanya, setidaknya untuk saat ini. Serentetan konflik yang terlahir di jilid sebelumnya, kembali dikemukakan dalam The Hunger Games: Catching Fire dengan ramuan yang lebih kaya isi. Terjadinya perubahan konfigurasi dalam susunan sutradara, penulis skrip, dan sinematografer turut membawa dampak positif pada jilid kedua yang terasa lebih kokoh ketimbang sebelumnya. Ya, jalinan pengisahan yang cenderung lebih kompleks, penuh dinamika, menggigit, dan akan membuat Anda betah menduduki kursi bioskop hingga menit terakhir yang bisa jadi akan menimbulkan rasa gemas setengah mati adalah apa yang bisa Anda dapatkan kala menyimak The Hunger Games: Catching Fire

Tanpa banyak berbasa-basi mengenai apa yang sebelumnya dikupas, film lantas membawa penonton untuk mengikuti Katniss dan Peeta Mellark (Josh Hutcherson) dalam rangkaian tur mengelilingi ke-12 distrik di Panem usai kemenangan mereka dalam perhelatan Hunger Games yang ke-74. Mereka mengira, setelah menebar kata-kata bijak, senyum palsu, dan kisah asmara yang direkayasa sedemikian rupa kepada masyarakat, kehidupan yang lebih baik – atau setidaknya, normal – akan berpihak pada mereka. Akan tetapi, Presiden Snow (Donald Sutherland) yang menganggap Katniss sebagai ancaman besar yang berpotensi memercikkan revolusi akbar untuk menggulingkan rezim totaliter yang dipimpinnya, tidak mengizinkan semuanya berakhir dengan mudah. Malahan, untuk perayaan usia ke-75 dari Hunger Games, Snow menggelar Quartel Quell yang diadakan setiap 25 tahun sekali. Selayaknya Survivor: All-Stars, edisi ini merekrut para pemenang di edisi lampau untuk kembali bertempur di arena. Itu berarti, untuk sekali lagi, Katniss dan Peeta kudu memerjuangkan hidup mereka dengan menaklukkan tantangan yang dikreasi oleh gamemaker anyar, Plutarch Heavensbee (Phillip Seymour Hoffman). 

Tidak seperti sang predesesor yang mesin penggeraknya sepenuhnya tertanam pada permainan ‘Hunger Games’ yang bagai gabungan antara Battle Royale dan Survivor, laju dari The Hunger Games: Catching Fire bersumber dari beberapa hal; pengisahan yang kompleks dengan muatan yang kaya akan kritikan terhadap budaya populer (khusunya reality show yang penuh kepalsuan) serta pemerintah yang cenderung abai terhadap wong cilik, hubungan antara para tokoh, dan permainan itu sendiri. Demi menggali karakteristik setiap tokoh dengan lebih mendalam, pula untuk membangun emosi serta memberi latar belakang memadai untuk apa yang terjadi selanjutnya, Francis Lawrence (I Am Legend, Constantine) menggulirkan paruh awal dengan sedikit perlahan. Dengan skrip yang padat berisi dan dirangkai secara cermat oleh duo berkelas Oscar, Simon Beaufoy dan Michael Arndt, guliran yang membentang panjang hingga 146 menit ini sama sekali tak terasa menjemukan. Sama sekali tidak. Trio ini dengan lihainya mampu menafsirkan kembali kata demi kata dari novel karya Suzanne Collins menjadi sebuah skrip yang solid, menggetarkan, dan penuh kejutan (terutama untuk belum membaca versi novelnya). 

Ya, mereka mampu menghidangkan sebuah tontonan yang tidak hanya memuaskan para penggemar berat tetapi juga menciptakan kalangan penggemar anyar. Komposisi untuk romansa, sci-fi, serta sedikit horor pada The Hunger Games yang agak janggal, dipermak habis-habisan di sini sehingga mampu melebur sempurna melahirkan rangkaian kisah yang memikat. Tidak hanya mengedepankan kisah cinta segirumit yang melilit Katniss, Peeta, dan Gale (Liam Hemsworth), namun juga mengulik lebih jauh sisi sosial dan politik dari Panem yang memprihatinkan, memunculkan lebih banyak sisi manusiawi para tokoh, dan pergolakan batin tak berkesudahan dari Katniss. Kehebatan dalam menuturkan kisah ini lantas ditopang oleh sinematografi cantik dari Jo Willems dan akting yang sungguh memesona dari jajaran pemainnya, sebut saja Woody Harrelson, Elizabeth Banks, Phillip Seymour Hoffman, Donald Sutherland, dan tentu saja Jennifer Lawrence – yang sekali lagi membuktikan bahwa dia memang sangat layak mengoleksi piala Oscar. 

The Hunger Games: Catching Fire mengikuti pola yang kudu dianut oleh sekuel apapun yang ingin tampil lebih perkasa dari film pendahulu; membuatnya lebih besar dan lebih megah dari bahan dasar yang telah terbukti efektif di seri sebelumnya, lantas disatukan dengan elemen-elemen anyar guna meningkatkan daya tarik. Francis Lawrence mempunyai kemampuan yang memadai dan tim yang mumpuni untuk meningkatkan standar kualitas dari franchise The Hunger Games. Dikerahkan secara maksimal, hasil yang terhidang adalah salah satu film adaptasi novel ‘young adult’ terbaik yang pernah dibuat. The Hunger Games: Catching Fire hadir dengan paket komplit dimana sektor drama yang menguras emosi habis-habisan mampu bersanding dengan rangkaian adegan aksi yang memompa adrenalin dari arena yang penuh tantangan brutal, visual yang tertata dengan indah, parade busana yang mengagumkan (hei, kita patut bangga kepada Tex Saverio!), dan performa brilian dari jajaran pemainnya. Selesai menonton The Hunger Games: Catching Fire, dijamin rasa tidak sabar dalam menanti kehadiran Mockingjay akan berkecamuk.

Outstanding

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.