REVIEW : SOKOLA RIMBA


"Aku mengajar di tempat ini, tetapi sesungguhnya akulah yang banyak belajar di tempat ini." - Butet

Selama perfilman Indonesia masih memiliki orang-orang seperti Riri Riza dan Mira Lesmana, jangan terburu-buru untuk meredupkan lilin harapan. Mungkin bagi Anda ini terdengar agak berlebihan, tapi pada kenyataannya, mereka merupakan dua dari segelintir pekerja film yang masih berani memertahankan idealisme untuk memajukan perfilman nasional di tengah-tengah iklim yang tidak pernah menentu. Garapan terbaru dari Riri Riza yang diproduseri oleh Mira Lesmana, Sokola Rimba, menunjukkan itu. Diangkat dari buku non-fiksi berjudul sama karya Butet Manurung, duo maut tersebut masih konsisten dalam melahirkan karya yang tidak hanya terkemas secara rapi, hangat, dan indah, tetapi juga memberikan pandangan yang baru, membuka hati, mata, dan wawasan. Sungguh jarang ada sebuah film buatan dalam negeri yang berhasil tampil secara informatif dan edukatif, tetapi tidak terasa cerewet dan pretensius. 

Dalam penceritaan, Sokola Rimba pun tidak berbelit-belit dan cenderung sederhana. Ini adalah kisah dari Butet Manurung (Prisia Nasution), seorang aktivis yang bekerja di lembaga konservasi alam, dalam pengalamannya menjadi guru bagi Suku Anak Dalam yang tinggal di hulu Sungai Makekal, Taman Nasional Bukit Dua Belas, Jambi. Aktivitasnya dalam mengajarkan baca tulis serta berhitung bagi anak-anak di hulu ini berhasil menarik perhatian seorang anak dari suku hilir, Nyungsang Bungo. Dilandasi atas dua alasan; berhutang budi kepada Bungo setelah Butet diselamatkan saat terjangkit malaria dan tekad yang begitu kuat dari Bungo untuk belajar membaca, Butet pun berencana untuk mengembangkan wilayah ajarnya. Hanya saja, niat baik dari Butet tidak memeroleh restu dari sang atasan, Bahar (Rukman Rosadi), dan kelompok rombongan Bungo yang menganggap ilmu pengetahuan yang dibawa oleh Butet menyebarkan kutukan kepada mereka. 

Sulit untuk tidak jatuh hati kepada Sokola Rimba. Jelas, ini adalah salah satu film terbaik tahun ini. Bagi Anda yang bertanya-tanya, “kapankah Indonesia bisa memiliki sebuah film yang tidak hanya menghibur tetapi juga mendidik?”, maka ini adalah jawabannya. Riri Riza bersama tim hebatnya di Miles Films menghidangkannya khusus untuk kita semua. Pengemasannya begitu cantik dengan sinematografi dari Gunnar Nimpuno yang membuat saya cukup kehilangan kata-kata untuk mendeskripsikannya lantaran sangat mengagumkan dimana dia berhasil memerlihatkan keelokan Indonesia serta serangkaian tangkapan gambar yang sulit untuk dilupakan (salah satunya adalah adegan memasak telur dadar yang... Ya Tuhan, bisa-bisanya itu terlihat begitu menggoda!). Ini pun berpadu dengan lembut bersama skoring megah dari Aksan Sjuman dan jajaran pemainnya seperti Prisia Nasution yang pancaran matanya berbicara banyak dan anak-anak Rimba – Nyungsang Bungo, Nengkabau, Beindah – yang berakting secara natural, seolah-olah mereka telah terbiasa untuk berlakon di depan layar. 

Dari sisi penceritaan pun, Sokola Rimba terasa kuat dan gemilang. Ketika film sejenis mencoba menginspirasi para penonton dengan iming-iming yang menggiurkan, maka Riri Riza memertahankan film untuk tetap berceloteh secara realistis. Mimpi Butet Manurung tidak melambung tinggi dan usahanya untuk mewujudkan mimpi tersebut pun berulang kali dihadang jalan buntu yang berujung kegagalan. Seperti hidup, tidak selamanya yang kamu harapkan (sekalipun dibalut niat yang mulia) bisa kamu rengkuh. Sosok Butet pun digambarkan layaknya perempuan kebanyakan – selain semangatnya yang luar biasa dan kebaikan hatinya, tak ada istimewa darinya. Ketidakberdayaan Butet dalam melawan sistem, lantas sedikit banyak dimanfaatkan oleh si pembuat film untuk melayangkan nota protes kepada pemerintah atas ketidakbecusan mereka dalam meratakan pendidikan dan melindungi alam. Saya pun bertanya-tanya, apakah mereka sebegitu ‘cintanya’ terhadap uang atau menganggap kedua sektor ini sebagai hal yang remeh temeh sehingga dirasa tidak perlu menyisihkan dana untuk membenahinya? 

Tidak melulu soal menilik pendidikan dari sudut pandang yang berbeda (dari apa yang selama ini diajarkan oleh ‘film inspiratif’) atau mengkritisi pemerintah, Sokola Rimba juga informatif saat penonton dibawa untuk menelusuri kehidupan Orang Rimba; seperti apa lingkungan tempat tinggal mereka, bagaimana cara mereka bertahan hidup, pandangan-pandangan mereka hingga adat-adat yang masih mereka yakini dan dipegang dengan teguh. Selayaknya apa yang dirasakan oleh Butet Manurung atas pengaruh Orang Rimba kepada dirinya, pada akhirnya Sokola Rimba pun bukan sekadar menjadi film yang informatif, tetapi juga edukatif dan inspiratif dengan cara yang berbeda tanpa pernah terasa menggurui. Dua jempol pun saya acungkan kepada Riri Riza, Mira Lesmana, dan tim atas Sokola Rimba yang begitu cantik dan bernutrisi tinggi ini!

Outstanding

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.